Well, inilah persembahanku.
Setiap distro yang dicetuskan oleh setiap distributor mestilah memiliki pathway atau guideline yang jelas dan diikuti dengan setia oleh pencetusnya, "gigitlah tali itu dengan geraham mu".
Contoh distro yang berhasil mengikuti pathway-nya adalah nama-nama besar di jagad distribusi GNU/Linux seperti Debian, Slackware, Redhat, Gentoo atau SUSE. Barangkali, keempat distribusi inilah yang paling jempol dalam hal bertahan hidup, meskipun mereka memiliki "hal-hal" yang kita nilai sebagai kekurangan, justru disanalah kunci kekuatan lifecycle mereka.
Ciri-ciri distro yang memiliki pathway dan mengikutinya dengan jelas adalah :
- Memiliki umat yang solid, meskipun sumber dana pengembangan morat-marit.
- Kekhasan mereka justru menjadi "kekurangan" mereka. Debian yang "outdated" tapi stable. Gentoo yang "susah" tapi unik. Slackware yang "traditional" ternyata "sederhana". Ubuntu yang release pasti 6 bulanan, tapi "rentan" bug atau dukungan restricted format (multimedia) minus. Semua karena mengikuti pathway mereka masing-masing.
- Functionality is first. Beautify and Cosmetics are "USELESS". Saya sendiri bukan orang yang beruntung bisa menikmati keindahan 3D desktop, atau waterfall desktop. Bahkan karena "poor"-nya perangkat hardware PC-ku aku harus mematikan fitur-fitur boros memori, termasuk screen saver dan game!
- Nasionalisasi itu Proyek Mahal
Salah satu yang menjadi sorotan saya adalah, ambisi untuk menerjemahkan FOSS ke dalam bahasa Indonesia.
Saya termasuk orang yang pesimis dan merasa ugly begitu mencoba distro dengan bahasa lokal saya sendiri. Mengapa?, karena GNU/Linux (dan software lainnya) ditulis oleh orang dengan bahasa nativenya (Inggris), maka software itu akan lebih menjabarkan fungsi-fungsi yang dimaksud pengembangnya dalam bahasa native-nya sendiri ketimbang dalam bahasa translasinya.
Saya termasuk orang yang menertawakan "tetikus (mouse), batang penggulung (scrollbar)", dan deretan hasil terjemahan lainnya. UGLY saja. Lebih murah dan cepat bagi kita untuk pergi les Bahasa Inggris atau menerbitkan ebook GRATIS dalam Bahasa Indonesia, ketimbang menerjemahkan softwarenya. Apalagi kalau yang diterjemahkan hanya antar mukanya saja. Tetap akan mempersulit user ketika muncul pesan kesalahan atau prompt (perintah yang menunggu input dari user) dalam Bahasa Inggris. - Memiliki distro turunan (optional!).
Ini jelas adalah buah dari kesuksesan. Distro yang berhasil bertahan hidup, pasti menjadikan fans-nya "iri" dan akhirnya menelurkan distronya sendiri. Beberapa anak turunan, bahkan sudah beranak lagi, malah bercucu. Mandrake dari Redhat, Ubuntu dari Debian, Slax dari Slackware, OpenSUSE (?) dari SUSE.
Nah, inilah akhir dari lamunan tengah malam saya. Akan saya akhiri dengan beberapa pertanyaan, untuk distro-distro baru, khususnya distro-distro lokal. Maafkan jika menyinggung perasaan.
- Sudahkah anda memiliki pathway yang jelas?
- Jika sudah, beranikah anda mengikutinya, tanpa dipengaruhi "godaan" dari luar?

0 Comments