Pengalaman Menggunakan DreamLinux di PC Tua

Di kantor saya yang baru (saya bekerja sambilan sebagai administrasi di STIKES Hasanuddin Mataram) ada PC tua milik yayasan yang diijinkan untuk digunakan.

Spesifikasi PC itu:
- Processor AMD 800 MHz
- RAM 128 Mb
- Hardisk 8 Gb
- VGA CARD ATI (entah seri apa)

Saat pertama kali menyalakan PC ini, sudah ada Windows XP, PC tidak mau masuk ke desktop karena file xxx.dll missing.
Itu artinya, saya harus menginstal ulang windowsnya, jika mau :-).

Tapi, saya tertantang untuk menginstall Linux ketimbang Windows, karena 1001 alasan, terutama masalah legalitas.

Akhirnya saya mencoba menginstal Debian Etch 4.0.
Proses booting berjalan mulus, pemartisian, dan ketika proses copy file-file, terjadi kemacetan!
Saya cari tahu masalahnya. Rupanya, si hardisk hilang lenyap tidak terdeteksi lagi, meskipun reboot.

Alhasil, instalasi Debian Etch 4.0 gagal total.

Akhirnya saya mencoba Minux 6.06 (hasil remaster saya!), Minux berjalan mulus pada PC tua ini, hanya, aplikasi yang saya sertakan dalam edisi mini ini terbatas untuk mengetik dengan leafpad, memutar video dengan mplayer dan mendengarkan musik menggunakan BMP (Beep Media Player).

Bos saya cuma bisa geleng-geleng saja, yah mau bagaimana lagi?

Beberapa hari kemudian, saya melihat-lihat koleksi Linux saya. Saya tertarik pada dream Linux 3.0 yang berbasis Debian Lenny/Sid. Saya mencobanya di komputer rumah, lalu saya menginstallnya ke USB hardisk saya.

Kemudian saya membuat CD bootable menggunakan GrUB sebagai bootloadernya untuk mem-boot DreamLinux 3.0 di USB hardisk itu.

Esoknya, hari ini, saya mencoba DreamLinux di USB itu dengan 3 baris perintah grub (saya menekan tombol c ketika berhadapan dengan menu grub dari CD bootable).

kernel /boot/vmlinuz-2.6.23.12-dream root=/dev/sda1 ro
initrd /boot/initrd.img-2.6.23.12-dream
boot


Dimana, pada tiap baris perintah saya menekan tombol enter.

Ketika mulai booting, prosesnya berjalan baik, service-service berjalan normal, hardware-hardware dikenali dengan baik, resolusi monitor terdeteksi dengan baik dan akhirnya saya masuk ke desktop.

Setelah masuk ke desktop, saya melakukan optimasi, karena untuk membuka aplikasi (openoffice writer) saja bisa memakan waktu sampai 1 menit.

Beberapa service tidak saya jalankan (network, cups, ppp, dan lainnya). Aplikasi engage (sejenis awn), wallpaper, dan lainnya saya matikan.
Dan kustomasi lainnya.

Dari sini saya belajar, di Linux, kemungkinan menghidupkan PC tua itu terbuka lebar. Tidak bisa menggunakan release Linux yang baru, gunakan yang lama.

Post a Comment

5 Comments

  1. Maz, tolong sharingkan lah file ISO Debian Etch 4.0.
    Saya pengen nyoba juga nech.
    :)

    ReplyDelete
  2. guampang lagi pake slax mas, http://www.slax.org/ buat orang bodo kya kita, program² nya sudah jadi modul, bisa bongkar pasang tanpa mesti di install. booting usb/cdrom oke. cpu tua, muda, setengah tua ga masalah

    ReplyDelete
  3. jd penasaran neh...('!')
    moga aja bs jalan di compaq pentium 2 ku :D

    ReplyDelete
  4. pengalaman yang menarik. saya sebenarnya pengen nich menginstal linux di pc pentium 3 juga tapi 933mhz dengan RAM256mb tapi belom nemuin distro yang cocok. pengen xubuntu biar gampang installnya tapi berat enggak yah? lagi nunggu crunchbang atau lubuntu :D siapa tahu ringan di kompi jadul ini

    ReplyDelete